Make your own free website on Tripod.com

decoralhead2.jpg

CTI Summit
Home
CTI Summit
News
Decoral Products
Our Products
Contact Us
Catalog
About Us

CORAL TRIANGLE  INITIATIVE SUMMIT

PELAKSANAAN  WORLD  OCEAN  CONFERENCE  DAN  CORAL TRIANGLE  INITIATIVE SUMMIT
DI MANADO, SULAWESI  UTARA TANGGAL 11-15  MEI 2009 
 
Pelaksanaan  World Ocean  Conference  dan  Coral Triangle  Initiative Summit  yang akan dilaksanakan  di Manado Sulawesi Utara  pada tanggal  11-15  Mei 2009  diharapkan dapat berhasil  dengan baik dan sukses. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono direncanakan  akan hadir untuk membuka konferensi pertemuan  bertaraf internasional  tersebut. Persiapannya  telah dibahas dalam  Rapat   Kabinet Terbatas tanggal  22 April 2009 di  Kantor Presiden.

Pelaksanaan  World Ocean  Conference  dan  Coral Triangle  Initiative Summit  merupakan  kegiatan  internasional  yang dilakukan di Indonesia Timur.  Diharapkan setelah pelaksanaan  World Ocean  Conference, daerah Sulawesi Utara   akan tumbuh  menjadi salah satu  pusat pertumbuhan  ekonomi baru  di Indonesia  Timur dan menjadikan    Manado sebagai  kota  Industri  MICE (Meeting, Incentive, Conference,  Exhibition). 

Pelaksanaan World Ocean Conference  merupakan implementasi  dari  Keputusan Presiden  RI  No. 23  Tahun  2007 dan  Keputusan  Presiden  No. 17  Tahun 2008  serta  amanat 63rd  UN General  Assembly 2008 : Omnibus Resolution on Ocean  and Law  of the Seas, sedangkan Coral Triangle  Initiative (CTI) Summit  merupakan implementasi dari  Keputusan Presiden  No. 30 tahun  2008  dan  amanat   APEC Sydney Declaration  pada bulan September 2007.

Indonesia  sebagai  negara  kepulauan  memiliki  wilayah   laut/perairan dengan potensi ekonomi yang tinggi, dapat dioptimalkan untuk dapat mendukung pembangunan nasional. Oleh karena itu kebijakan pembangunan di Indonesia  juga diarahkan  bagi  sektor  pengelolaan  kelautan dan perikanan. Disamping itu komitmen dunia  atas pengelolaan laut  yang berkelanjutan  merupakan  bagian yang tidak  terpisahkan dari usaha-usaha  pengelolaan laut  sebagai sumber daya alam  bagi  negara kepulauan seperti Indonesia.

Perubahan iklim  telah menjadi isu sentral dunia. Hampir 2/3 dari permukaan bumi adalah lautan  yang mempunyai fungsi ekologi, ekonomi, sosial dan berdampak  pada kehidupan manusia di bumi. Laut memainkan peranan  utama dalam menentukan  iklim dan cuaca, disamping itu  perubahan iklim  akhir-akhir  ini mempunyai dampak  pada kehidupan di sekitar laut, kehidupan di laut dan mata pencaharian di laut.  Oleh karena itu  diperlukan pemahaman yang mendalam  untuk mengetahui  dampak dan ancaman  perubahan iklim terhadap laut dan  peran laut terhadap perubahan iklim  melalui komitmen semua pihak untuk melakukan pengelolaan laut  dalam hubungan dengan  perubahan iklim  yang  telah menjadi isu dunia  akhir-akhir ini.

Adalah inisiatif dan gagasan besar  Indonesia  untuk  memberikan perhatian besar  pada sumber daya  hayati kelautan  melalui  penyelenggaraan  kegiatan kelautan dunia di Manado, Sulawesi Utara yang meliputi rangkaian  pertemuan   antara  lain : World Ocean Conference (11-14 Mei 2009) dan  Coral Triangle Initiative Summit  (15 Mei 2009).

World Ocean Conference  (11-14 Mei 2009)

Konferensi Kelautan  Dunia (World Ocean Conference) pada tanggal 11-14 Mei 2009, di Manado Sulawesi Utara  diharapkan  dapat  membahas isu -isu dalam bidang  kelautan yang berpangaruh pada perubahan iklim dan  menghasilkan kesepakatan internasional serta   strategi dalam menggunakan  sumber daya kelautan untuk kemanfaatan bagi kehidupan manusia.

Konferensi  ini merupakan inisiatif  murni  Indonesia untuk memberikan kontribusi  dalam memberikan solusi  terhadap dampak dan  ancaman perubahan  iklim terhadap laut dan  sebaliknya pengaruh  laut  terhadap  perubahan  iklim. Konferensi  Kelauatan Dunia yang mengambil tema “Climate  Change Impacts to Ocean  and The Role of Ocean to Climate Change”  ini, untuk pertama kalinya diadakan pada tingkat dunia  dan telah mendapat dukungan dari  masyarakat internasional serta   pimpinan atau  Kepala Negara dunia. Konferensi ini, memerlukan  kemauan politik  dari perwakilan-perwakilan pemerintah yang hadir  dan diharapkan menghasilkan kesepakatan  internasional yang akan menjadi  batasan dalam pengelolaan kelautan  secara global serta menjadi momentum  bagi penyelamatan dunia  dari ancaman perubahan iklim  terhadap laut dan seluruh kehidupannnya. 

Secara umum  tujuan penyelenggaraan  World Ocean Conference  antara lain :

  1. Meningkatkan saling pengertian berbagai pihak  mengenai  perubahan iklim dan dampaknya pada kesejahtaraan sosial, kondisi ekonomi masyarakat dan  kondisi  ekologi laut  serta peranan laut dalam  menentukan fenomena perubahan iklim. Perlunya mitigasi dan penyesuaian  yang  terukur  untuk  menghadapi perubahan  iklim;
  2. Mengembangkan komitmen yang kuat dari  masyarakat global dan mendiskusikan  kemajuan  kelautan dunia  dalam hubungan dengan   peranan laut  dalam  proses perubahan iklim dan  pengaruh perubahan iklim  pada laut.
Konferensi direncanakan dihadiri 121 negara untuk membangun  komitmen dan mendiskusikan  masa depan kelautan dunia, peran laut terhadap iklim dan  dampak perubahan iklim terhadap laut dan diharapkan  dapat  mendeklarasikan  Manado Ocean Declaration  yang berkaitan dengan  kelautan dan  perubahan iklim. Manado Ocean Declaration  akan menjadi dokumen bersejarah  untuk kelangsungan kehidupan laut di dunia, sehingga dukumen tersebut juga diharapkan akan diperjuangkan Pemerintah Indonesia  di PBB untuk dimasukkan  dalam agenda resmi  dan dibahas dalam pertemuan para negara pihak  the United Nations Convention  on the Law of the Sea.

Dasar pemikiran  Manado Ocean  Declaration  pada intinya  adalah : isu perubahan  iklim global  masih belum mencakup isu laut secara signifikan  dan  sejak  United   Nations Convention on Law of the  Seas  1982 (UNCLOS 82)  masih  belum ada  kebijakan kelautan  tingkat dunia  yang disepakati  para pengambil kebijakan politik tingkat  tinggi  serta  Manado Ocean Declaration  diharapkan  dapat menjawab terhadap dampak  perubahan iklim  global terhadap laut, peran laut terhadap perubahan iklim global, upaya adaptasi  dan kerjasama internasional. Sedangkan substansi isu  yang diharapkan dalam  Manado Ocean  Declaration  antara lain :
  1. Mengelola, memanfaatkan  dan melestarikan  sumberdaya kelautan secara terpadu;
  2. Peran laut memenuhi sasaran  MDGs: Food Security, Human Health, Biodiversity, Poverty Allevation, Disaster Relief;
  3. Kerjasama Iptek, Alih Teknologi dan Pertukaran Data,  dalam rangka adaptasi perubahan  iklim laut;
  4. Mengundang  Adaptation Fund Board  UNFCCC untuk memasukan laut  ke dalam  Program Climate  Change Adaptation,
  5. Isu laut diupayakan masuk secara signifikan dalam COP-15 UNFCCC, Copenhagen, Desember 2009;
  6. Dimensi laut harus tampil  menonjol pada Post Kyoto Protocol 2012.
Rencana pelaksanaan   Konferensi  Kelautan Dunia ini telah mendapat tanggapan  dan respon  positif  luas dari masyarakat internasional dan sejumlah pimpinan dan Kepala negara dunia, bahkan  World Ocean Conference  2009 di Manado, berhasil  didaftarkan dalam agenda 63 PBB pada tanggal 17 Desember 2008 dan menghasilkan  resolusi yang dinamakan  Omnibus  Resolution  on Ocean  and Law  of the  Seas.

Coral Triangle Initiative Summit  (15 Mei 2009)

Pertemuan  ini  merupakan  inisiatif  Indonesia  dalam rangka penanggulangan perubahan  iklim dan  penyelamatan  terumbu karang  yang memiliki nilai strategis  di wilayah  zona ekonomi eksklusif dan  segitiga  terumbu karang enam negara  yaitu : Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea,  Solomon Island dan Timor Leste  atau CT-6.  Kawasan ini memiliki  sumber daya  hayati laut yang memiliki nilai stratgis bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta penduduk dapat mengharapkan  sumber daya hayati dari  kawasan tersebut dan memiliki  nilai ekosistem  pesisir  diperkirakan sebesar  US$ 2,3  milyar pertahun serta   merupakan  lokasi perkembangbiakan  ikan tuna  yang dapat mendukung perkembangan  industri  perikanan  tuna terbesar di dunia.

Kawasan segitiga  terumbu karang  enam negara (CT-6)  memiliki  luas  kurang lebih  75.000 km2, memiliki lebih  dari 500 species  terumbu karang  dan lebih  dari 3000 species  ikan.  Kawasan ini juga dikenal dunia dengan sebutan  Amazone of the Seas  karena memiliki  keanekaragaman  hayati yang paling kaya dan pusat  kehidupan laut   di dunia. Mempertimbangkan  posisi strategis dan kekayaan sumber hayati laut  di kawasan  segitiga terumbu karang,  maka  Indonesia  mengambil  inisiatif  untuk membantu menyelamatkan  dan melindungi  terumbu karang serta  berbagai species  sumber daya hayati di laut  melalui  penyelenggaraan Coral Triangle Initiative Summit  di Manado, Sulawesi Utara tanggal  15 Mei 2009.

Gagasan dan inisiatif  penyelenggaraan  Coral Triangle Initiative Summit   merupakan tindaklanjut dari  Deklarasi APEC  di Sydney, Australia tanggal  9 September 2007 yang pada intinya  Delegasi APEC  menyambut  positif  inisiatif Indonesia  dalam rangka pelaksanaan program  Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security  yang bertujuan untuk  meningkatkan perlindungan  sumber hayati laut terumbu karang  di wilayah segitiga terumbu karang.  Dalam  deklarasi tersebut dinyatakan bahwa  sumber daya kelautan dan  pesisir  merupakan  bagian terintegrasi  dari siklus  karbon.

Gagasan dan inisiatif  penyelenggaraan  Coral Triangle Initiative Summit   kemudian dibahas dalam  pertemuan Senior Official Meeting  dan  Stakeholders Meeting of  Coral Triangle Initiative (CTI)  di Bali pada tanggal  6-7 Desember  2007 bersamaan dengan berlangsungnya  pertemuan  COP13 UNFCCC di Bali, yang menghasilkan kesepakatan antara lain : negara-negara CT-6  menyetujui untuk melaksanakan Coral Triangle Initiative (CTI), menyetujui  rancangan  CTI Action Plan,  menyetujui  CTI  Road Map CT-6  Partner  siap mendukung  CTI,  CTI 2nd  SOM di Filipina (finalisasi  rancangan  CTI Action Plan), dan penyelenggaraan CTI Summit  pada bulan Mei 2009  di Manado, Sulawesi Utara.

Selanjutnya  setelah  pertemuan tersebut, terdapat  Roadmap pertemuan-pertemuan lainnya sebelum  CTI Summit  di  Manado  15 Mei 2009  antara lain :  CTI  Ministerial Meeting di Port  Moresby tanggal 13  Maret 2009, CTI High  Level official Prep Com Meeting di Jakarta tanggal  6-7 April 2009, CTI SOM Prep Com and Informal  Ministerial Meeting di Manado tanggal 12-13 Mei 2009.

Penyelenggaraan   Coral Triangle Initiative  diharapkan  dapat menghasilkan  CTI Leaders Declaration  yang pada intinya  antara lain  :
  1. Peluncuran program Coral Triangle Initiative on Coral Reef, Fisheries and Food Security  oleh 6 Kepala Negara/Pemerintahan;
  2. Mengadopsi  CTI  Regional Plan of Action  untuk mengkonservasi dan  mengelola secara berkelanjutan sumber daya pesisir  dan laut di  kawasan Coral  Triangle;
  3. Implementasi CTI bersifat voluntary dan berdasarkan  Undang-Undang, peraturan, kebijkan dan prioritas nasional masing-masing  negara;
  4. Menyepakati  pembentukan Sekretariat   Regional CTI yang bersifat permanen;
  5. mendorong mobilisasi  dan alokasi sumber dana yang berkelanjutan untuk pelaksanaan CTI Regional  and  National  Plan of Action.
Regional  Plan of Action  menggambarkan  Rencana Aksi 10 tahun mendatang pengelolaan  berkelanjutan  dan konservasi  sumber  daya pesisir  dan laut di kawasan  Coral Triangle dengan arah  yang disepakati  antara lain :
  1. Pengelolaan efektif  bentang laut  prioritas;
  2. Pengelolaan perikanan dan sumber daya kelautan berbasis  ekosistem;
  3. Pengelolaan kawasan konservasi laut dan jejaringnya;
  4. Adaptasi sumber daya laut dan pulau-pulau kecil terhadap  perubahan iklim;
  5. Mempertahankan dan meningkatkan populasi spesies  yang terancam punah.

Tujuan dan sasaran  yang lebih   terukur  diharapkan  dapat  dirumuskan lebih lanjut  oleh  negara-negara    anggota  CT-6  dalam  Coral Triangle Initiative Summit  yang dapat  dijadikan  dasar  bagi    Deklarasi  Bersama  dalam  rangka penyelamatan  terumbu karang dan  berbagai species  sumber daya hayati di laut    yang   memiliki   nilai  strategis  di wilayah  zona ekonomi eksklusif dan segitiga  terumbu karang enam negara (CT-6).

Pelaksanaan World Ocean Conference dan  Coral Triangle Initiative Summit  di Manado, Sulawesi  Utara  merupakan  momentum  sejarah yang   dapat  meningkatkan citra positif  Indonesia sebagai  negara maritim  yang besar dan dapat  membantu  promosi wisata khususnya  di  Manado,  Sulawesi Utara.  Semua pihak  yang mempunyai kewenangan terhadap penyelenggaraan  kegiatan  kelautan internasional di Manado, Sulawesi Utara,  dapat  melakukan  langkah-langkah  koordinasi yang lebih intensif  demi suksesnya  pelaksanaan   kegiatan  kelautan internasional dimaksud.  Selain itu  juga,  perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat  Indonesia bahwa Indonesia telah diberikan kepercayaan  internasional untuk menyelenggarakan  pertemuan tingkat dunia, yang dapat menjadi kebanggaan nasional bangsa Indonesia. Mudah-mudahan dengan  penyelenggaraan  kegiatan  kelautan internasional akan menghasilkan  gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan besar dalam pengelolaan dan perlindungan kelautan dunia pada umumnya dan kelautan Indonesia pada khususnya.
 
Sumber : setneg.go.id

Enter supporting content here